> ## Content Index
> Fetch the complete content index at: https://coba.narabahasa.id/llms.txt
> Use this file to discover other available public pages before exploring further.

# Integrasi Bahasa: Penyerapan dan Penerjemahan
- URL: https://coba.narabahasa.id/integrasi-bahasa-penyerapan-dan-penerjemahan/
- Published: 2021-02-06T13:20:28.000Z
- Updated: 2021-02-06T13:20:28.000Z
- Author: Yudhistira
- Tags: Sosiolinguistik, integrasi, pemadanan, penerjemahan, penyerapan, #Migrated-1790158046258, #wp, #wp-post, #Import 2026-09-23 17:07

*Monteur* berasal dari bahasa Belanda. Kata ini kemudian mengalami penyesuaian menjadi ‘montir’ dalam bahasa Indonesia.

Proses penyesuaian *monteur* menjadi ‘montir’ dinamakan integrasi, yakni pemakaian sebuah unsur dalam bahasa asing atau daerah yang mengalami penyesuaian bunyi, lafal, bentuk, dan ejaan. Tentunya, integrasi berkaitan erat dengan upaya pemadanan yang dapat dilakukan melalui penyerapan, penerjemahan, atau penggabungan penyerapan dengan penerjemahan. Upaya pemadanan ini sangat berguna bagi pembentukan istilah.

**Penyerapan**

Penyerapan dilakukan ketika kata bahasa asing tidak sulit untuk dieja dan dilafalkan dalam bahasa kita. Penyerapan dapat dilakukan melalui pilihan berikut.

1\. Penyesuaian ejaan dan lafal

*camera* → ‘kamera’

*product* → ‘produk’

*biology* → ‘biologi’

2\. Penyesuaian ejaan tanpa penyesuaian lafal

*design* → ‘desain’

*science* → ‘sains’

*therapy* → ‘terapi’

3\. Penyesuaian lafal tanpa penyesuaian ejaan

*bias* → ‘bias’

*radio* → ‘radio’

*radar* → ‘radar’

*4\.* Tanpa penyesuaian ejaan dan lafal

*bias* → ‘bias’

*radio* → ‘radio’

*radar* → ‘radar’

5\. Tanpa penyesuaian ejaan dan lafal

*golf* → ‘golf’

*internal* → ‘internal’

*internet* → ‘internet’

Di luar itu, ada pula beberapa kata yang diserap jika ejaan dan lafalnya tidak mengalami perubahan pada bahasa-bahasa modern, seperti *divide et impera, ad hoc,* dan *quo vadis*.

**Penerjemahan**

Pada umumnya, penerjemahan dilakukan apabila penyerapan sulit diterapkan. Terdapat dua jenis penerjemahan, yakni penerjemahan langsung dan penerjemahan dengan perekaan. Pada jenis yang pertama, penerjemahan dapat dilakukan dengan mengutamakan keserasian makna, sekalipun bentuknya tidak sepadan. Contoh kata yang mengalami penerjemahan langsung adalah ‘pasar swalayan’ yang berasal dari *supermarket* dan ‘toserba’ (toko serbaada) yang berasal dari *department store*. Selain itu, penerjemahan langsung pun juga bisa dilakukan berdasarkan kesesuaian makna dan bentuk, seperti *income tax* menjadi ‘pajak penghasilan’ dan *public ownership* menjadi ‘kepemilikan publik’.

Perlu diketahui, hasil terjemahan tidak harus terdiri atas jumlah kata yang sama dengan asal kata, misalnya ‘anak perusahaan’ untuk *subsidiary*, ‘batu bara’ untuk *coal*, dan ‘ibu kota’ untuk *capital*.

Selain itu, penerjemahan dengan perekaan dapat kita temui pada kata ‘anjak piutang’ yang memadankan *factoring*. Kata *anjak* menyiratkan ‘memindahkan’ atau ‘mengalihkan’, sedangkan *piutang* dapat mengartikan ‘uang yang dipinjamkan (yang dapat ditagih dari seseorang)’ atau ‘tagihan utang’. Berlandaskan pada perekaan tersebut, *anjak piutang* dibentuk sebagai ‘pengalihan hak menagih utang’ yang mengartikan *factoring*. 

Contoh lain penerjemahan dengan perekaan adalah ‘sulih suara’ untuk *dubbing*, ‘sulih teks’ untuk *subtitle*, dan ‘jasa boga’ untuk *catering*.

**Penyerapan dan Penerjemahan** 

Langkah pemadanan ini lazim diterapkan pada istilah khusus dalam suatu bidang. Contohnya adalah sebagai berikut.

*calcaneocuboid joint* → ‘sendi kalkaneokuboid’

*closed system* → ‘sistem tertutup’

*probability of living* → ‘probabilitas hidup’

Penerjemahan dan penyerapan sebagai upaya pemadanan merupakan bentuk integrasi bahasa. Tentu saja, integrasi ini tidak hanya terbatas pada bahasa asing. Banyak bahasa daerah yang sudah diserap ke dalam bahasa Indonesia, seperti *cemani* (Jawa) yang mengartikan ‘hitam sekali (sampai ke tulang-tulangnya)’, *balayan* (Minangkabau) yang berarti ‘penyakit kulit seperti bisul, yang tumbuh pada bagian kepala dan meninggalkan bekas’, dan *bangkung* (Bali) yang mengartikan ‘induk babi’.

**Rujukan:**

- Balayan. 2016\. Pada KBBI V Daring. Diambil 19 Januari 2021, dari [https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/balayan](https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/balayan?ref=coba.narabahasa.id).
- Bangkung. 2016\. Pada KBBI V Daring. Diambil 19 Januari 2021, dari [https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/bangkung](https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/bangkung?ref=coba.narabahasa.id).
- Budiwiyanto, Adi. “[Kontribusi Kosakata Bahasa Daerah dalam Bahasa Indonesia](http://badanbahasa.kemdikbud.go.id/lamanbahasa/content/kontribusi-kosakata-bahasa-daerah-dalam-bahasa-indonesia?ref=coba.narabahasa.id)”. Diakses pada 19 Januari 2021.
- Cemani. 2016\. Pada KBBI V Daring. Diambil 19 Januari 2021, dari https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/cemani.
- Kushartanti, dkk. (ed). 2005\. [*Pesona Bahasa: Langkah Awal Memahami Linguistik*](https://narabahasa.id/artikel/resensi-kebahasaan/buku/resensi-buku-pesona-bahasa-langkah-awal-memahami-linguistik/?ref=coba.narabahasa.id)*.* Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama.
- Qodratillah, Meity Taqdir. 2016\. *Seri Penyuluhan Bahasa Indonesia: Tata Istilah.* Jakarta: Pusat Pembinaan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

**Penulis**: Yudhistira

**Penyunting**: Ivan Lanin