> ## Content Index
> Fetch the complete content index at: https://coba.narabahasa.id/llms.txt
> Use this file to discover other available public pages before exploring further.

# Ini Cara Memilih Kata dan Membentuk Istilah
- URL: https://coba.narabahasa.id/ini-cara-memilih-kata-dan-membentuk-istilah/
- Published: 2021-11-24T05:47:38.000Z
- Updated: 2021-11-24T05:47:38.000Z
- Author: Narabahasa
- Tags: Berita, istilah, Kata, Kelas Daring Praktis, Narabahasa, #Migrated-1790158046258, #wp, #wp-post, #Import 2026-09-23 17:07

Narabahasa telah melangsungkan Kelas Daring Praktis (KDP) Kiat Memilih Kata dan Istilah pada Selasa, 23 November 2021, melalui ruang Zoom. Felicia Nuradi Utorodewo, dosen Sastra Indonesia di Universitas Indonesia, hadir sebagai widyaiswara dalam KDP itu.

Dalam pemaparannya, Felicia mengatakan bahwa ketika memilih kata, hal yang harus dipahami terlebih dahulu ialah menentukan laras bahasa dan tujuan penulisan. Selain itu, tiap penulis juga harus menguasai makna dari setiap kata.

“Ketika memilih kata, sebaiknya kita memiliki *Kamus Besar Bahasa Indonesia* (KBBI) dan *Tesaurus Bahasa Indonesia*. Nantinya, kita dapat menambah perbendaharaan kata atau kosakata. Kita juga harus menambah pengetahuan morfologis agar tidak terjadi kesalahan makna. Contohnya, *diduduki* dan *terduduki* merupakan dua kata dengan makna yang berbeda,” lanjutnya.

Ia juga menjelaskan beberapa cara ketika hendak memilih kata, antara lain, kata khusus, indrawi, serta percakapan.

Menurutnya, mengubah kata umum menjadi kata khusus dapat mengungkapkan makna secara lebih jelas. Kata khusus juga dapat membangkitkan sugesti dalam diri pembaca. Misalnya, *berjalan perlahan-lahan* memiliki makna yang berbeda dengan *tertatih*.

Kemudian, kata indrawi dapat digunakan ketika menyajikan berita yang bersifat faktual. Kata indrawi terdiri atas penglihat, pendengar, peraba, perasa, dan pencium. Kata itu dapat membantu menulis deskripsi lebih akurat.

Pada kata percakapan, menurut Felicia, kata itu hanya digunakan dalam ragam lisan, bukan ragam tulis. Misalnya, *bisa* digunakan hanya dalam ragam lisan, sedangkan dalam ragam tulis, digunakan kata *dapat*.

![](https://narabahasa.id/web/wp-content/uploads/2021/11/Screenshot-382.png)

Setelah membahas pemilihan kata, Felicia melanjutkan pemaparan tentang pembentukan istilah. Ia menyatakan bahwa istilah terbagi dua, yakni istilah umum dan khusus.

“Istilah umum adalah istilah yang pada awalnya berasal dari bidang ilmu tertentu dan kemudian menjadi kosakata umum karena digunakan secara luas. Misalnya, *radio* dan *anggaran belanja*. Sementara, istilah khusus adalah istilah yang maknanya terbatas pada bidang tertentu saja. Contohnya, *apendektomi* dan *oksida*,” jelas Felicia.

Kepada peserta, ia juga menerangkan cara membentuk istilah. Pertama, yang dapat dilakukan ialah pemantapan. Cara itu dilakukan dengan memantapkan konsep yang sudah ada, seperti *unggah* dan *unduh* yang berasal dari bahasa Inggris *upload* dan *download*.

Cara berikutnya ialah dengan perekaciptaan. Cara itu dapat dibuat dengan merekaciptakan konsep baru sesuai dengan lingkungan dan corak kegiatan. Misalnya, *fondasi cakar ayam*.

Cara yang terakhir adalah dengan pemadanan. Cara itu dapat dilakukan dengan membuat konsep lama maupun baru dari bahasa asing menjadi bahasa Indonesia. Misalnya, *flying fox* menjadi ‘luncur gantung’ dan *subdivision* menjadi ‘subbagian’.

\*\*\*

Penulis: Rassya Priyandira Penyunting: Harrits Rizqi