> ## Content Index
> Fetch the complete content index at: https://coba.narabahasa.id/llms.txt
> Use this file to discover other available public pages before exploring further.

# Eufemisme dalam Kekuasaan, Media Massa, dan Kritik
- URL: https://coba.narabahasa.id/eufemisme-dalam-kekuasaan-media-massa-dan-kritik/
- Published: 2021-09-06T11:00:35.000Z
- Updated: 2021-09-06T11:00:35.000Z
- Author: Yudhistira
- Tags: Linguistik Interdisipliner, Stilistika, eufemisme, #Migrated-1790158046258, #wp, #wp-post, #Import 2026-09-23 17:07

Seiring berjalannya waktu, bahasa mengalami perkembangan. Kita tahu itu. Terlebih, makna suatu kata pun dapat meluas dan menyempit. Perubahan makna berupa penghalusan atau eufemisme, saya rasa, tidak akan ada habisnya untuk diperdebatkan—apalagi jika dikaitkan dengan politik, kekuasaan, dan media massa.

Saya menemukan satu artikel yang menarik. Pada 2017, Zammil menulis “Peran Bahasa dalam Melegitimasi Rezim Orde Baru”. Menurutnya, bahasa adalah salah satu alat politik yang digunakan pada era Orde Baru untuk mengukuhkan kekuasaan. Dia lantas mengutip Virginia Matheson Hooker dalam buku *Bahasa dan Kekuasaan: Politik Wacana di Panggung Orde Baru*. Dalam buku itu, Hooker menyatakan bahwa eufemisme merupakan upaya politisasi makna. 

Kerabat Nara mungkin sering mendengar kata *mengamankan* yang sebetulnya bermakna ‘menahan’ atau ‘menangkap’. Itu adalah salah satu eufemisme yang sampai hari ini masih kerap digunakan. Untungnya, sebagian masyarakat sekarang tidak lagi ragu bahwa kata tersebut hanyalah penghalusan. Di mata netizen, *mengamankan* adalah kata umum untuk mencerminkan kebohongan. Saking umumnya, kini *mengamankan* pada KBBI memiliki makna ‘menahan orang yang melanggar hukum demi keamanan umum dan keamanan orang itu dari kemungkinan tindakan main hakim sendiri’. Mungkin juga, penyematan makna tersebut makin membuktikan adanya politisasi makna terhadap kata *mengamankan*.

Eufemisme juga turut mendapatkan tempat pada judul-judul berita dalam media massa. Ada kalangan yang tidak setuju dengan media massa yang menggunakan kata *menggagahi* serta *rudapaksa*, misalnya, untuk memaknai ‘memerkosa’. Pasalnya, *rudapaksa* pertama kali digunakan dalam istilah hukum, yakni untuk memadankan istilah *gewelddadige aanslag* menjadi ‘makar rudapaksa’ dan *gewelddadige dood* menjadi ‘mati rudapaksa’*,* ‘mati karena kekerasan’. Pada KBBI edisi pertama (1988), *rudapaksa* memaknai ‘perbuatan yang dilakukan dengan paksa’. Lalu pada KBBI edisi kedua (1991), kata tersebut mengartikan ‘kekerasan; kekejaman’. Barulah pada edisi ketiga (2001), kamus kita menyematkan makna ‘paksa; perkosa’ pada *rudapaksa*.

Kita bisa lihat, baik pemerintah maupun media massa memanfaatkan eufemisme pada wacana yang mereka sampaikan. Barangkali, penggunaan tersebut dilakukan untuk menyajikan sesuatu yang lebih enak dibaca dan didengar. Di luar itu, Mualafina (2017) dalam “Eufemisme Bahasa Indonesia dalam Bidang Profesi” menawarkan perspektif baru bahwa penggunaan kata *driver* alih-alih *sopir* dalam aplikasi ojol juga mencerminkan eufemisme. Dalam penggunaannya, eufemisme bisa mengangkat martabat suatu profesi, seperti munculnya istilah *asisten rumah tangga*.

Lebih dari itu, di tengah ngerinya jeratan UU ITE, kita mesti lebih berhati-hati dalam berbahasa. Mungkin saja, eufemisme bisa dimanfaatkan pula untuk melemparkan kritik secara aman.

#eufemisme

**Rujukan:**

- Hidayat, Asep Rahmat. “[Rudapaksa](https://badanbahasa.kemdikbud.go.id/lamanbahasa/artikel/3492/rudapaksa?ref=coba.narabahasa.id)”. *Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa*. Diakses pada 8 September 2021.
- Mualafina, Rawinda Fitrotul. 2017\. “Eufemisme Bahasa Indonesia dalam Bidang Profesi”. *Transformatika: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya*, Vol. 1, No. 1, Maret, hlm. 123--140\. Magelang: Universitas Tidar.
- Zammil. 2017\. “[Peran Bahasa dalam Melegitimasi Rezim Orde Baru](https://www.terakota.id/peran-bahasa-dalam-melegitimasi-rezim-orde-baru/?ref=coba.narabahasa.id)”. *Terakota*. Diakses pada 8 September 2021.

**Penulis:** Yudhistira

**Penyunting:** Ivan Lanin