> ## Content Index
> Fetch the complete content index at: https://coba.narabahasa.id/llms.txt
> Use this file to discover other available public pages before exploring further.

# Distribusi, Daya Gabung, Kolokasi, Nilai Rasa, Ragam Bahasa, dan Makna Tambahan dalam Sinonimi
- URL: https://coba.narabahasa.id/distribusi-daya-gabung-kolokasi-nilai-rasa-ragam-bahasa-dan-makna-tambahan-dalam-sinonimi/
- Published: 2022-02-22T11:00:46.000Z
- Updated: 2022-02-22T11:00:46.000Z
- Author: Yudhistira
- Tags: Linguistik Umum, sinonimi, #Migrated-1790158046258, #wp, #wp-post, #Import 2026-09-23 17:07

Dalam “[Sinonimi: Kembar yang Tak Selalu Identik](https://narabahasa.id/linguistik-umum/semantik/sinonimi-kembar-yang-tak-selalu-identik?ref=coba.narabahasa.id)”, Mbak Shafira menyatakan bahwa dua kata yang bersinonim tidak selalu mempunyai makna yang sama persis. *Ayah* dan *bapak*, misalnya. Dalam konteks tertentu, kedua kata tersebut tidak dapat menggantikan. Saya bisa memanggil ayah saya dengan sapaan *bapak*. Saya pun bisa menyapa guru saya dengan sebutan *bapak*. Namun, karena bapak saya bukan seorang guru, saya tidak pernah memanggil guru saya dengan sebutan *ayah*. Menurut Mbak Shafira, sinonimi adalah kembar yang tidak selalu identik secara mutlak.

Kali ini, saya akan membahas sinonimi berdasarkan pemaparan Saryono, Soedjito, dan Setyawanto (2021) dalam *Seri Terampil Menulis Bahasa Indonesia: Sinonim.* Kita bisa belajar bahwa sinonimi antara dua kata dapat dilihat berdasarkan distribusi, daya gabung, kolokasi, nilai rasa, ragam bahasa, serta makna dasar dan tambahan.

**Distribusi**

Distribusi berkaitan dengan perilaku sintaksis. Perhatikan contoh berikut.

1. Imam bekerja keras *untuk* menghidupi keluarganya.
2. Imam bekerja keras *demi* hidup keluarganya.

Kata *demi* dan *untuk* memang dapat saling menggantikan. Namun, pada kondisi tertentu, kita sebaiknya melakukan sedikit modifikasi kalimat. Pada kalimat kedua, kata *menghidupi* diganti dengan *hidup* karena kata *demi* mengandung makna ‘untuk (kepentingan)’.

Contoh lainnya adalah penggunaan kata *sangat* dan *sekali* dalam contoh di bawah ini.

1. Dia *sangat* cantik.
2. Dia cantik *sekali*.

**Daya Gabung**

Sebuah kata dapat bersandingan atau bergabung dengan kata tertentu. Misalnya, kata ingkar *bukan* berpasangan dengan kata benda, sedangkan kata ingkar *tidak* berpasangan dengan kata kerja.

1. Saya *bukan* perokok.
2. Saya *tidak* merokok.

Secara garis besar, daya hubung memayungi konsep sinonimi dalam tataran kelas kata dan gramatika. Contoh lainnya adalah preposisi *untuk* yang berpasangan dengan frasa dan konjungsi *supaya* yang berjodoh dengan klausa.

1. Pelatihan ini diadakan *untuk* meningkatkan kapasitas karyawan.
2. Pelatihan ini diadakan *supaya* kapasitas karyawan meningkat.

**Kolokasi**

Kolokasi adalah asosiasi sebuah kata dengan kata lainnya yang berada di lingkup yang sama atau memiliki makna leksikal yang mirip. Contoh pada bagian awal tulisan, yaitu *ayah* dan *bapak*, adalah salah satu wujud kolokasi. Contoh lainnya adalah kata *bagus* yang berkolokasi dengan *cantik*, *indah*, dan *molek*. Biasanya, kata-kata yang berkolokasi berada dalam kelas kata yang sama. 

**Nilai Rasa**

Jika diperhatikan, saya rasa kolokasi bersangkut paut dengan nilai rasa. *Meninggal*, *mati*, *gugur*, *wafat*, *mangkat*, dan *tewas* tentu saling bersinonim. Namun, setiap kata tersebut mempunyai nilai rasa yang berbeda. Saya kira ini dipengaruhi oleh konteks sosial dan budaya yang melekat dalam suatu tempat.

**Ragam Bahasa**

*Aku* dan *saya* saling bersinonim. Namun, keduanya digunakan dalam ragam bahasa yang tidak sama. Kata *aku* merupakan kata ganti yang sering dimanfaatkan dalam ragam takresmi. Sementara itu, dalam ragam resmi, beberapa dari kita sudah terbiasa untuk menggunakan kata ganti *saya*.

**Makna Dasar dan Tambahan**

Kita dapat memetakan makna sebuah kata menjadi makna dasar dan tambahan. Perhatikan contoh berikut.

1. Saya *membawa* kabar baik untukmu.
2. Saya *mempunyai* kabar baik untukmu.

Kita tahu bahwa *membawa* dan *mempunyai* bukanlah contoh umum dalam relasi sinonimi. Namun, dalam contoh tersebut, *mempunyai* adalah salah satu kata dengan makna tambahan yang mampu mewakili makna dasar dari kata *membawa*.

#sinonim

**Rujukan:**

Saryono, Soedjito, & Setyawanto. 2021\. [*Seri Terampil Menulis Bahasa Indonesia: Sinonim*](https://www.tokopedia.com/narabahasa/buku-sinonim-djoko-saryono-soedjito-agung-setyawanto?extParam=src%3Dshop&ref=coba.narabahasa.id)*.* Jakarta: PT Bumi Aksara.

**Penulis:** Yudhistira

**Penyunting:** Ivan Lanin