> ## Content Index
> Fetch the complete content index at: https://coba.narabahasa.id/llms.txt
> Use this file to discover other available public pages before exploring further.

# Dipisah atau Disambung?
- URL: https://coba.narabahasa.id/dipisah-atau-disambung/
- Published: 2020-10-17T15:18:16.000Z
- Updated: 2020-10-17T15:18:16.000Z
- Author: Yudhistira
- Tags: Ejaan, Kata, Linguistik Umum, Morfologi, bahasa Indonesia, di, #Migrated-1790158046258, #wp, #wp-post, #Import 2026-09-23 17:07

Bagi mereka yang berkecimpung atau berprofesi di dunia penulisan, penggunaan *di* adalah pengetahuan awal. Ketika seorang wartawan atau penulis artikel, misalnya, menuliskan “disini”, “di makan”, bahkan “di mandikan”, saya bisa-bisa langsung berhenti membaca dan beralih ke tulisan lain. Bahkan, meskipun pengarang karya fiksi memiliki lisensi puitis untuk melanggar kaidah bahasa demi mencapai estetika tertentu, saya rasa, penulis yang bersangkutan juga mesti mengetahui cara-cara menggunakan *di.* 

Dalam bahasa Indonesia, penulisan *di* bisa disambung atau [dipisah](https://coba.narabahasa.id/perkara-di-yang-dirangkai-dan-di-yang-dipisah/). *Di* memiliki dua fungsi. Pertama, sebagai imbuhan atau afiks, penulisan *di-* ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Biasanya, afiks *di-* mencerminkan pembentukan kata kerja (verba). Contohnya sebagai berikut.

- Ayam itu **di*masak* oleh ibu.
- Aku **di*minta* Ayah untuk menghadiri pameran nanti malam.
- Pak Kades **di*bayar* oleh pengusaha sawit untuk membantu pembukaan lahan.

Sebagai catatan, *di-* sebagai imbuhan awal disebut juga sebagai afiks yang menunjukkan bentuk pasif dari verba aktif. 

1. dimasak → memasak
2. diminta → meminta
3. dibayar → membayar

Lalu, pada fungsi yang kedua, *di* tergolong ke dalam salah satu jenis kata tugas, yakni preposisi (kata depan), tepatnya preposisi tunggal yang hanya terdiri atas satu kata bersama *ke, dari,* dan *pada.* Di sini, penulisan *di* sebagai kata depan yang berfungsi untuk menyatakan keterangan tempat harus dipisah.

1. Adik menaruh bukunya *di atas* lemari.
2. Ia kehilangan ponselnya *di pasar malam*.
3. Kami memilih untuk menetap *di Malang* sejak kejadian itu.

Ciri lainnya, penulisan *di* sebagai kata depan dapat diganti dengan *ke* atau *dari* yang juga menunjukkan tempat dan biasanya tidak dapat diubah menjadi kata kerja aktif. 

1. di sana → ke sana
2. di balik pintu → ke balik pintu

Cara sederhana untuk mengingat dua jenis *di* adalah mengetahui fungsinya: berdiri sebagai kata depan atau imbuhan. Hati-hati, jangan terkecoh dengan kata *dikesampingkan.* Sekilas, *dikesampingkan* memang memiliki unsur penanda arah. Akan tetapi, jika kita cermati lebih jauh, *dikesampingkan* adalah bentuk pasif dari *mengesampingkan* (sebuah proses atau aktivitas). 

Barangkali, *di* sering diremehkan karena hanya terdiri atas dua huruf. Akan tetapi, buat saya, ini adalah hal kecil yang mendasar. Baik dirangkai maupun dipisah, penulisan *di* bisa mencerminkan ketelitian, pengalaman, bahkan reputasi seorang penulis dan editor. 

**Rujukan**:

- Kumala, Aprilia. 2018\. “[Penulisan Di dan Pun: Harusnya Dipisah atau Digabung, Sih?](https://mojok.co/apk/komen/versus/penulisan-di-dan-pun/?ref=coba.narabahasa.id)”. Diakses pada 7 Oktober 2020.
- Moeliono, Anton. M dkk. 2017\. *Tata Bahasa Baku Indonesia Edisi Keempat*. Jakarta: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.

**Penulis**: Yudhistira

**Penyunting:** Ivan Lanin