> ## Content Index
> Fetch the complete content index at: https://coba.narabahasa.id/llms.txt
> Use this file to discover other available public pages before exploring further.

# Bjir dan Bjrot
- URL: https://coba.narabahasa.id/bjir-dan-bjrot/
- Published: 2023-09-01T11:17:07.000Z
- Updated: 2026-09-23T12:42:11.000Z
- Author: Yudhistira
- Tags: Kata, Linguistik Interdisipliner, Linguistik Umum, Morfologi, Sosiolinguistik, anjir, #Migrated-1790158046258, #wp, #wp-post, #Import 2026-09-23 17:07

Bahasa akan selalu berkembang. Hal ini tidak terpisahkan dari perilaku manusia, penuturnya, yang juga berkembang. Sebagian Kerabat Nara mungkin tahu, *bjir* sudah menjadi salah satu kata yang sering digunakan, terutama pada platform Twitter. Kita bisa sedikit mengusut ke belakang bahwa kata ini bermula dari *anjing*, lalu berubah menjadi *anjir*, dan bermodifikasi lagi membentuk *bjir*.

Saya rasa sulit untuk menemukan siapa yang pertama kali menggunakan *bjir*. Dugaan saya, kata ini terbentuk karena saltik. Saat ini, ponsel yang digunakan oleh banyak orang memiliki *QWERTY-based keyboard* atau papan tombol berbasis QWERTY, berbeda dengan ponsel jadul yang memanfaatkan *ABC-based keyboard*. Alhasil, pada sistem QWERTY, huruf *n* berdempetan dengan *b* sehingga *bjir* sangat mungkin terjadi karena saltik.

Fenomena ini ternyata masih berlanjut. *Anjir* memiliki variasi *anjrit* yang diikuti pula dengan *anjrot*. *Anjrit* menjadi *anjrot*, *bjir* pun berubah *bjrot*. Vokal *i* dan *o* bermain di sana dengan penyesuaian posisi yang agaknya diupayakan demi kesedapan bunyi dan kemudahan pelafalan—coba bandingkan dengan *bjort*.

Kita mengenal istilah "slang", yakni ‘ragam bahasa tak resmi yang dipakai oleh kaum remaja atau kelompok-kelompok sosial tertentu untuk komunikasi internal sebagai usaha supaya orang-orang kelompok lain tidak mengerti’. Bahasa prokem di Jakarta pada 1980-an termasuk slang. Bahasa Jaksel, seperti *anjay*, *mantul*, dan *kuy*, pun tergolong sebagai slang. *Anjir*, *njir*, *bjir*, dan *bjrot*, saya pikir, juga merupakan slang.

Ketika membicarakan bahasa slang, kita tidak bisa mengabaikan peran masyarakat sebagai penuturnya. Maka dari itu, kajian sosiolinguistik diberdayakan. *Bjir* dan *bjrot* pun dapat ditelusuri melalui kacamata sosiolinguistik. Kita bisa memetakan pengguna *bjir* dan *bjrot* karena sosiolinguistik berkaitan dengan komunitas tutur (*speech community*) yang saat ini dipengaruhi akses terhadap media sosial sebagai corong informasi.

Dalam perkembangan sosiolinguistik, terdapat pandangan yang menyorot bahasa sebagai konstruksi multimodal (*multimodal construction*). Bahasa tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang tertulis. Lebih dari itu, bahasa adalah tanda sosial, simbol yang merepresentasikan dinamika kehidupan suatu masyarakat.

Apabila kita menganggap *bjir* dan *bjrot* sebagai kata yang *norak*, percayalah, barangkali anggapan ini juga terjadi pada 1980-an. Bukan tidak mungkin, kedua kata itu akan terekam dalam kamus kita suatu saat nanti.

Rujukan:

- Emte, Shafira Deiktya. 2021\. “[Mengenal Sosiolinguistik](https://coba.narabahasa.id/content/files/2026/09/mengenal-sosiolinguistik-2.html)”. *Narabahasa.id*. Diakses pada 29 Agustus 2023.
- Kridalaksana, Harimurti. 2008\. *Kamus Linguistik Edisi Keempat*. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
- Wang, Jiayu, dkk. 2023\. “[Changing perceptions of language in sociolinguistics](https://www.nature.com/articles/s41599-023-01574-5?ref=coba.narabahasa.id#:~:text=In%20sum%2C%20it%20can%20be,them%20from%20other%20multimodal%20resources.)”. Dalam Jurnal *Humanities and Social Sciences Communications*, Vol. 10, No. 91\. London: Springer Nature.

Penulis: Yudhistira

Penyunting: Ivan Lanin