> ## Content Index
> Fetch the complete content index at: https://coba.narabahasa.id/llms.txt
> Use this file to discover other available public pages before exploring further.

# Bentuk Terikat: Contoh dan Pengecualiannya
- URL: https://coba.narabahasa.id/bentuk-terikat-contoh-dan-pengecualiannya/
- Published: 2021-12-12T11:00:51.000Z
- Updated: 2021-12-12T11:00:51.000Z
- Author: Yudhistira
- Tags: Linguistik Umum, bentuk terikat, #Migrated-1790158046258, #wp, #wp-post, #Import 2026-09-23 17:07

Bahasa Indonesia punya banyak bentuk terikat. Dalam *Kamus Linguistik Edisi Keempat* (2009), bentuk terikat didefinisikan sebagai ‘bentuk bahasa yang harus bergabung dengan unsur lain untuk dipakai dengan makna yang jelas’. 

*Non-* adalah salah satu bentuk terikat. Saya rasa masih banyak di antara kita yang memisahkan *non-* dengan kata yang mengikutinya, seperti *non teknis*, *non fiksi,* dan *non migas.* Padahal, sebagai bentuk terikat, ketiganya ditulis menjadi *nonteknis*, *nonfiksi*, dan *nonmigas*. Sementara itu, jika berkaitan dengan nama diri atau bentuk lain yang diawali dengan huruf kapital, bentuk terikat ini diikuti tanda hubung: *non-Indonesia*, *non-Jawa*, dan *non-ASEAN.*

Contoh bentuk terikat lainnya adalah *pro-*, *pasca-*, dan *anti-*. Sama dengan *non-*, ketiga bentuk terikat tersebut ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya, seperti *proaktif*, *pascasarjana*, dan *antibiotik*. Ketiganya pun ditulis dengan tanda hubung jika diikuti nama diri atau kata berawalan kapital: *pro-Irian*, *pasca-Nusantara*, dan *anti-Israel*.

Beberapa contoh di atas menunjukkan bertemunya bentuk terikat dengan bentuk dasar. Bagaimana jika bentuk terikat bertemu dengan sebuah kata berafiks?

Bentuk terikat *maha-*, misalnya, apabila merujuk pada Tuhan dan bertemu dengan kata *Pengasih*, ditulis secara terpisah: *Maha Pengasih*. Sebaliknya, jika *maha-* bertemu dengan kata dasar dan ditempatkan dalam kalimat berkonteks ketuhanan, penulisannya menjadi *Mari kita memanjatkan doa kepada Tuhan yang *Mahakuasa**. Namun, dalam konteks bentuk terikat *maha-*, ada satu pengecualian, yakni *mahaesa* yang ditulis menjadi *Maha Esa.*

Pertanyaannya, apakah bentuk terikat lain yang diikuti dengan kata berimbuhan juga ditulis tidak serangkai dan tanpa tanda hubung? Misalnya, mana yang lebih tepat: *anti perubahan* atau *anti-perubahan*? Dalam hal ini, penulisan yang dianjurkan adalah *antiperubahan*. Kata ini belum tercantum dalam KBBI. Namun, bentuk serupa dapat kita temui dalam kamus, yaitu *antipembekuan*.

#bentukterikat

**Rujukan:** Kridalaksana, Harimurti. 2009\. *Kamus Linguistik Edisi Keempat*. Jakarta: Penerbit Gramedia Pustaka Utama.

**Penulis:** Yudhistira

**Penyunting:** Ivan Lanin