> ## Content Index
> Fetch the complete content index at: https://coba.narabahasa.id/llms.txt
> Use this file to discover other available public pages before exploring further.

# Bagaimana Kita Memaki
- URL: https://coba.narabahasa.id/bagaimana-kita-memaki/
- Published: 2022-03-28T11:00:26.000Z
- Updated: 2022-03-28T11:00:26.000Z
- Author: Yudhistira
- Tags: Linguistik Umum, makian, umpatan, #Migrated-1790158046258, #wp, #wp-post, #Import 2026-09-23 17:07

Memaki, mengumpat, atau berkata-kata kasar mencerminkan sikap yang kurang baik dari seorang manusia. Kendati begitu, kita tetap saja melakukannya, apalagi dalam situasi-situasi yang tidak mengenakkan. Pernahkah Kerabat Nara mengidentifikasi kata-kata kasar apa yang terucapkan begitu saja tatkala emosi demikian memuncak?

I Dewa Putu Wijana, guru besar bahasa Indonesia di Universitas Gadjah Mada, menuliskan hasil penelitian tentang jenis makian dalam bahasa Indonesia. Menurut beliau, topik ini jarang dibahas. Peneliti-peneliti lain terkesan lebih tertarik untuk mengkaji [eufemisme](https://narabahasa.id/artikel/linguistik-umum/hati-hati-eufemisme-dalam-kalimat-motivasi/?ref=coba.narabahasa.id). Padahal, seperti yang saya singgung sebelumnya, makian merupakan salah satu ujaran atau bentuk ekspresi yang sering kita dengar setiap harinya.

Menurut Wijana, makian dalam bahasa Indonesia dapat berbentuk kata, frasa, atau klausa. Secara berturut-turut, contohnya sebagai berikut.

1. *Anjing!* Kurang ajar sekali kau.
2. *Dasar gila*. Kamu pikir kamu sedang berhadapan dengan siapa?
3. *Setan alas kamu!* Kamu tidak tahu cara berterima kasih kepadaku?

Wijana juga menjelaskan bahwa makian dalam bahasa kita bisa dikategorikan berdasarkan referen atau acuannya masing-masing.

**Keadaan**

Keadaan adalah referen paling umum yang dapat memicu terlontarnya makian. Untuk mencerminkan keadaan mental, kita terbiasa mendengar makian *bodoh, gila,* dan *tolol*; untuk mencerminkan keadaan yang tabu atau sesuatu yang dilarang oleh ajaran keagamaan, terdapat makian *kafir*, *jahanam*, dan *terkutuk*; serta untuk menunjukkan keadaan buruk yang menimpa seseorang, lahirlah makian *sialan, mati*, dan *mampus.* 

Perlu diingat, contoh-contoh di atas dapat kita temukan juga dalam keadaan terkejut, heran, dan kagum.

**Binatang**

Kita tahu bahwa jenis-jenis binatang sering kali dilontarkan sebagai makian. Bagi Wijana, binatang-binatang yang pernah kita gunakan sebagai makian mencerminkan sifat binatang tersebut. *Anjing*, misalnya, dianggap memiliki sifat yang menjijikkan karena air liurnya. *Babi* lekat dengan makna ‘haram’. Kemudian, *bangsat* dianggap sebagai hewan yang mengganggu.

**Benda**

Nyatanya, makian tidak hanya bisa diwakili oleh jenis binatang. Salah satu makian yang berupa benda ialah *tahi* atau *tai*.

**Bagian Tubuh dan Aktivitas Seksual**

Bagian tubuh dan aktivitas seksual kerap dijadikan sebagai makian sebab sifatnya yang personal. Tanpa perlu disebutkan, saya rasa Kerabat Nara sudah tahu contoh-contoh makian yang merupakan bagian tubuh dan aktivitas seksual.

**Kekerabatan**

Makian berbentuk kekerabatan, sejujurnya, sering sekali saya terapkan bersama teman-teman semasa kecil. Contohnya ialah *Bapak lo!*, *Mak lo!*, dan *Encing lo!*

**Profesi**

Bagi Wijana, profesi yang sering dijadikan sebagai bahan makian adalah profesi yang dianggap rendah, seperti *Dasar tukang sapu!* atau *Dasar pengemis!* Selain itu, ada pula profesi yang dilarang oleh agama yang dilemparkan sebagai makian, seperti *Pelacur!, Gigolo!*, dan *Maling!*

Makian berdasarkan referennya begitu beragam. Makian dapat berbentuk kata, frasa, atau klausa. Tanpa disadari, saya rasa kita semua pernah mendengar makian-makian tersebut diucapkan oleh seseorang.

Pada awal tulisan, saya sebutkan bahwa memaki merupakan cerminan atas sikap yang kurang baik. Saya jadi teringat, ketika merantau ke Surabaya pada 2014, ada seorang teman saya yang memiliki pandangan lain. Baginya, memaki bukan semata-mata respons yang telah kita biasakan, bukan pula sebatas cerminan atas keadaan terkejut, heran, atau kagum. Menurut teman saya itu, umpatan merupakan bentuk keakraban.

“Aku *nggak* bakal *ngomong* kasar kepada kamu *kalo* kita *nggak* saling kenal.” Kira-kira begitu tuturnya.

#makian #umpatan

**Rujukan:** Wijana, I Putu Dewa. 2004\. “[Makian dalam Bahasa Indonesia: Studi tentang Bentuk dan Referensinya](https://journal.ugm.ac.id/jurnal-humaniora/article/view/1304?ref=coba.narabahasa.id)”. Dalam Jurnal *Humaniora*, Volume 16, Nomor 3, Oktober, hlm. 242–251\. Yogyakarta: Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada.

**Penulis:** Yudhistira

**Penyunting:** Ivan Lanin