> ## Content Index
> Fetch the complete content index at: https://coba.narabahasa.id/llms.txt
> Use this file to discover other available public pages before exploring further.

# Awas Tertukar!
- URL: https://coba.narabahasa.id/awas-tertukar/
- Published: 2022-03-31T11:00:25.000Z
- Updated: 2022-03-31T11:00:25.000Z
- Author: Yudhistira
- Tags: Kata, Linguistik Umum, Ejaan, makna, #Migrated-1790158046258, #wp, #wp-post, #Import 2026-09-23 17:07

Banyak sekali kata dalam bahasa kita. Terkadang, kita kebingungan untuk menentukan bentuk [baku](https://coba.narabahasa.id/kata-baku-dan-nonbaku-dalam-kamus-besar/) dan takbaku. Selain itu, tantangan lainnya ialah bahasa Indonesia memuat beberapa kata yang mirip dengan arti yang betul-betul berbeda.

Contohnya adalah *tebersit* dan *terbesit*. Penempatan konsonan *r* dalam dua kata tersebut ialah kunci penentuan maknanya. *Tebersit* berarti ‘terpancar samar-samar’ atau ‘tersiar (tentang kabar dan sebagainya secara samar-samar)’, sedangkan *terbesit* adalah ‘terharu; iba; rawan’. Perlu kita ingat, *terbersit* tidak tercantum dalam KBBI.

Seorang teman saya juga pernah keblinger dengan kata *figura* dan *pigura*. Yang pertama berasal dari Melayu Manado dan berarti ‘perayaan akhir tahun di Manado, berupa pawai berkeliling kampung, diikuti oleh laki-laki yang berdandan seperti perempuan dan perempuan berdandan seperti laki-laki’. Sementara itu, *pigura* adalah gambar atau lukisan yang berbingkai.

Perbedaan makna dalam *figura* dan *pigura* merupakan kasus pasangan minimal, yakni perbedaan satu fonem yang membedakan makna kata. Hal ini dapat kita temukan pula pada kata *ka*u*s-ka*o*s*, *ha*r*i-ha*t*i*, dan *asa*m*\-ata*p**.

Selain itu, beberapa dari kita mungkin pernah juga luput mengecek makna suatu kata dalam kamus. Coba perhatikan dua contoh berikut.

1. Aku tidak menyukai sifatnya. Makanya aku *acuhkan* saja dirinya.
2. Pada kuliah hari ini, Azwar lupa mengisi daftar *absen*.

Sekilas contoh pertama terasa baik-baik saja. Namun, jika diselisik lebih jauh, *acuh* bermakna ‘peduli’ atau ‘mengindahkan’. Dengan demikian, dua kalimat dalam contoh pertama menjadi tidak logis. Kemudian, pada contoh kedua, kata *absen* tidaklah tepat. *Absen* mengartikan ‘tidak masuk (sekolah, kerja, dan sebagainya); tidak hadir’. Kata yang lebih tepat untuk mengakhiri kalimat nomor dua adalah *presensi* yang bermakna ‘kehadiran’.

Tanpa disadari, kita pernah salah tulis atau salah berbicara seperti dalam kasus *tebersit* dan *terbesit*, *figura* dan *pigura*, serta *acuh* dan *absen*. Tidak apa-apa. Ke depannya, rajin-rajinlah untuk membuka kamus dan mengecek ejaan serta makna suatu [kata](https://ivanlanin.medium.com/siapa-yang-boleh-membuat-kata-baru-f266133717c2?ref=coba.narabahasa.id).

#ejaan #pasanganminimal #makna

**Penulis:** Yudhistira

**Penyunting:** Ivan Lanin