> ## Content Index
> Fetch the complete content index at: https://coba.narabahasa.id/llms.txt
> Use this file to discover other available public pages before exploring further.

# Afiks dalam Bahasa Indonesia
- URL: https://coba.narabahasa.id/afiks-dalam-bahasa-indonesia/
- Published: 2021-04-09T11:00:32.000Z
- Updated: 2021-04-09T11:00:32.000Z
- Author: Yudhistira
- Tags: Morfologi, afiks, imbuhan, Infiks, KombinasiAfiks, konfiks, prefiks, sufiks, #Migrated-1790158046258, #wp, #wp-post, #Import 2026-09-23 17:07

Afiks atau imbuhan adalah bentuk terikat. Bentuk lain yang melekat pada afiks akan mengalami perubahan makna dan kategori. Perlu kita tahu, afiksasi, yakni ‘proses pembubuhan afiks’, sangat produktif dalam bahasa Indonesia sebagai pembentuk kata. Berikut ini adalah kategori afiks dalam bahasa Indonesia menurut Kridalaksana (2010).

**Prefiks**

Afiks ini terletak di awal sebuah bentuk. Oleh karena itu, prefiks sering juga disebut sebagai awalan. Prefiks dalam bahasa Indonesia ada delapan, yaitu *me-, di-, ber-, ke-, ter-, pe-, per-,* dan *se-.* 

**Infiks**

Infiks adalah imbuhan yang diletakkan di tengah sebuah bentuk. Imbuhan ini sering juga disebut sebagai sisipan. Empat infiks dalam bahasa Indonesia adalah *\-el-* (misalnya dalam *geletar*), *\-er-* (misalnya dalam *kerudung*), *\-em-* (misalnya dalam *gemetar*), dan *\-in-* (misalnya dalam *kinerja*).

**Sufiks**

Afiks ini berkebalikan dengan prefiks, yakni diletakkan di belakang sebuah bentuk. Ada tiga sufiks dalam bahasa Indonesia, yaitu *\-an*, *\-kan*, dan *\-i*.

Barangkali, banyak dari kita hanya mengetahui tiga jenis afiks tersebut. Tentu saja, pada masa sekolah dulu, prefiks, infiks, dan sufiks adalah materi yang tidak boleh terlewatkan dalam pelajaran bahasa Indonesia. Namun, ternyata ada tiga jenis afiks lagi yang perlu kita tahu, yaitu simulfiks, konfiks, dan kombinasi afiks.

**Simulfiks**

Berbeda dengan ketiga afiks sebelumnya, simulfiks berfokus pada ciri segmental yang mampu mengubah kategori sebuah bentuk lewat nasalisasi. Contohnya adalah *kopi* sebagai nomina yang beralih ke bentuk verba ketika awalannya dinasalkan menjadi *ngopi*. Contoh lainnya adalah *sate* menjadi *nyate*. Namun, ingat, tidak semua bentuk yang bersimulfiks akan mengalami perubahan kategori. *Kebut* menjadi *ngebut* atau *tongkrong* menjadi *nongkrong*, misalnya, tetap berkedudukan sebagai verba.

**Konfiks**

Konfiks, yang sering juga disebut ambifiks atau sirkumfiks, adalah imbuhan di awal dan belakang sebuah bentuk dasar. Bahasa kita mengenal empat jenis konfiks, yakni *ke-an* (misalnya dalam *keadaan*), *pe-an* (misalnya dalam *pengiriman*), *per-an* (misalnya dalam *pertemanan*), dan *ber-an* (misalnya dalam *bertolongan*).

**Kombinasi Afiks**

Kombinasi afiks dan konfiks memang mirip, tetapi tidak sama. Apabila konfiks terjadi secara serentak, kombinasi afiks terjadi secara bertahap. Kata *melakukan*, contohnya, bukan terbentuk melalui konfiks *me-kan*. Sebaliknya, kata tersebut pertama-tama mengalami sufiksasi *\-kan* sehingga terbentuklah *lakukan*. Baru setelah itu, prefiks *me-* dibubuhkan. 

Dalam bahasa Indonesia, contoh kombinasi afiks ialah *me-kan*, *me-i*, *memper-kan*, *memper-i*, *ber-kan*, *ter-kan*, *per-kan*, *pe-an*, dan *se-nya*.

**Rujukan:**

- Kridalaksana, Harimurti. 2009\. *Kamus Linguistik: Edisi Keempat*. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
- \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_. 2010\. *Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia*. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

**Penulis:** Yudhistira

**Penyunting:** Ivan Lanin