> ## Content Index
> Fetch the complete content index at: https://coba.narabahasa.id/llms.txt
> Use this file to discover other available public pages before exploring further.

# Adverbia Tunggal dan Gabungan
- URL: https://coba.narabahasa.id/adverbia-tunggal-dan-gabungan/
- Published: 2021-05-24T08:07:48.000Z
- Updated: 2021-05-24T08:07:48.000Z
- Author: Yudhistira
- Tags: Sintaksis, adverbia, #Migrated-1790158046258, #wp, #wp-post, #Import 2026-09-23 17:07

Sebelumnya saya sudah pernah membahas [macam-macam adverbia](https://narabahasa.id/sintaksis/macam-macam-adverbia?ref=coba.narabahasa.id). Jika ditilik berdasarkan perilaku semantisnya, adverbia sebagai kata keterangan dapat digolongkan menjadi adverbia kualitatif, kuantitatif, limitatif, frekuentatif, kewaktuan, kecaraan, kontrastif, dan keniscayaan. Untuk menerangkan kualitas, gunakanlah adverbia *paling*, *sangat*, atau *agak*. Kemudian untuk menerangkan kuantitas, kita bisa menggunakan *banyak*, *sedikit*, atau *cukup*. Setiap jenis memuat adverbia yang berbeda-beda.

Jenis adverbia juga bisa diklasifikasikan berdasarkan bentuk tunggal dan gabungan. Apabila bentuk tunggal mengandung adverbia yang berupa kata dasar, kata berafiks, dan kata ulang, bentuk gabungan berisi adverbia gabungan yang berdampingan serta adverbia gabungan yang tidak berdampingan.

**Adverbia Tunggal**

Adverbia yang hanya memiliki satu morfem disebut adverbia tunggal berupa kata dasar. Yang termasuk ke dalam adverbia ini adalah pemarkah negasi (*tidak* dan *bukan*); pemarkah keaspekan (*akan*, *sedang*, dan *sudah*); pemarkah modalitas (*ingin*, *mau*, dan *harus*); pemarkah kualitas (*paling*, *agak*, dan *sangat*); pemarkah perbandingan (*lebih* dan *kurang*), dan sebagainya.

Di lain sisi, adverbia tunggal juga ada yang mengalami afiksasi *se- … -nya* atau *\-nya*. Contohnya adalah *sebaiknya*, *seyogianya*, dan *seharusnya*; serta *agaknya*, *biasanya*, dan *tampaknya*. Selain itu, Moeliono dkk. juga menuliskan adverbia tunggal berafiks *ter-*, seperti *terlalu*, *terlampau*, *terkadang*, dan *teramat*.

Klasifikasi yang terakhir dalam adverbia tunggal adalah adverbia tunggal yang berupa kata ulang. Terdapat empat pola yang bisa membentuk adverbia tunggal ini.

1. Pengulangan kata dasar, contohnya *belum-belum*, *diam-diam*, dan *lagi-lagi*
2. Pengulangan kata dasar dengan penambahan *se-*, contohnya *sepandai-pandai* dan *setinggi-tinggi*
3. Pengulangan kata dasar dengan penambahan *\-an*, contohnya *terang-terangan* dan *habis-habisan*
4. Pengulangan kata dasar dengan penambahan *se-* dan *\-nya*, contohnya *sepandai-pandainya*, *setinggi-tingginya*, dan *seikhlas-ikhlasnya*

Perlu dicatat bahwa *sepandai-pandai* dan *setinggi-tinggi* sudah tercantum dalam KBBI V. Namun, *sepandai-pandai* tergolong ke dalam adjektiva, bukan adverbia. Tampaknya ada perbedaan pendapat antara penyusun kamus kita dan penyusun *Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia Edisi Keempat* (2017).

**Adverbia Gabungan**

Adverbia yang terdiri atas dua atau tiga kata dasar disebut adverbia gabungan. Jika adverbia-adverbia berdampingan tanpa perantara, adverbia tersebut dinamakan adverbia gabungan yang berdampingan. Contohnya adalah *lebih kurang*, *sudah pernah*, dan *mau tidak* mau.

Sementara itu, adverbia gabungan yang dipisahkan oleh unsur lain adalah adverbia gabungan yang tidak berdampingan. Perhatikan contoh kalimat berikut.

1. Ditya *tidak* kapok *juga* sekalipun sudah ketahuan berkali-kali.
2. Meskipun sudah mengebut, saya *belum* sampai *juga*.
3. *Bukan* saya *saja* yang merasakan hal serupa.

Perlu dicatat juga, ada beberapa adverbia gabungan yang tidak berdampingan dapat dimanfaatkan sebagai adverbia gabungan berdampingan.

1. Meskipun sudah mengebut, saya *belum juga* sampai.
2. Ditya *tidak juga* kapok sekalipun sudah ketahuan berkali-kali.
3. Dia *tidak lagi* bekerja di kantor itu.

Rujukan: Moeliono, Anton. M, dkk. 2017\. *Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia Edisi Keempat.* Jakarta: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.

Penulis: Yudhistira

Penyunting: Ivan Lanin