> ## Content Index
> Fetch the complete content index at: https://coba.narabahasa.id/llms.txt
> Use this file to discover other available public pages before exploring further.

# Adalah, Merupakan, dan Ialah
- URL: https://coba.narabahasa.id/adalah-merupakan-dan-ialah/
- Published: 2021-02-22T11:00:47.000Z
- Updated: 2021-02-22T11:00:47.000Z
- Author: Yudhistira
- Tags: Sintaksis, adalah, ialah, kopula, kopulatif, merupakan, verba, #Migrated-1790158046258, #wp, #wp-post, #Import 2026-09-23 17:07

Barangkali, belum banyak yang tahu bahwa [*adalah*](https://narabahasa.id/artikel/linguistik-umum/kalimat/status-adalah-dalam-kalimat/?ref=coba.narabahasa.id) dan *merupakan* merupakan golongan verba. Untuk mengupas keduanya secara lebih dalam, kita bisa merujuk pada dua sudut pandang yang datang dari Kridalaksana dan Moeliono dkk. Mari, kita simak lebih lanjut.

Kridalaksana, dalam *Tata Bahasa Deskriptif Bahasa Indonesia* (1985), menuliskan bahwa berdasarkan sudut hubungan dengan argumennya, verba dapat digolongkan menjadi verba kopulatif dan ekuatif. Verba kopulatif adalah verba yang mempunyai potensi untuk ditanggalkan tanpa mengubah konstruksi predikatif yang bersangkutan, misalnya *adalah* dan *merupakan*. Sementara itu, verba ekuatif adalah verba yang mengungkapkan ciri salah satu argumennya, seperti *menjadi, terdiri,* dan *berdasarkan*.

Di sisi lain, Moeliono dkk. dalam *Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia* (2017) hanya menyebutkan verba kopulatif saja. Verba yang disebut juga sebagai verba perakit ini mencakup kata *adalah* dan *ialah*. Keduanya diletakkan setelah subjek dan sebelum predikat nonverbal. Perhatikan contoh berikut.

1. Bapak *adalah* seorang penulis novel.
2. Hadiah ini *ialah* untuk kekasihku yang paling setia.

Sementara itu, menurut Moeliono dkk., *merupakan* dan *menjadi* adalah verba yang sering digunakan sebagai perakit.

1. Korupsi *merupakan* kasus yang selalu terjadi di Indonesia.
2. Saya *menjadi* wakil ketua kelas 12 A.

Lebih dari itu, Moeliono dkk. juga memaparkan, apabila subjek dan predikat dalam sebuah kalimat merupakan nomina atau frasa nominal dan memiliki referen yang sama, kalimat itu disebut sebagai kalimat ekuatif. Kalimat ekuatif dapat dibuktikan melalui penukaran posisi unsur-unsur subjek.

1\. a. Bapaknya Tono *adalah* seorang penulis wara di kantor itu.

 b. Salah seorang penulis wara di kantor itu *adalah* bapaknya Tono.

2\. a. Keris ini *ialah* peninggalan yang tersisa.

 b. Peninggalan yang tersisa *ialah* keris ini.

Perlu diketahui, *adalah* dan *merupakan* dapat berdiri di awal kalimat dan saling bersulih. Akan tetapi, penggunaan *ialah* di awal kalimat akan terasa janggal dan jarang ditemukan. Bahkan, menurut Moeliono dkk., *ialah* tidak dapat mengawali sebuah kalimat. Namun, apabila *ialah* merupakan verba sebagaimana yang tertera dalam *Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia*, bukankah seharusnya kata itu dapat berdiri di awal kalimat? 

Nyatanya, di dalam kamus, *ialah* tergolong sebagai partikel, bukan verba. Dari sini, kita bisa melihat perbedaan pandangan antara KBBI V dan *Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia*. Lebih dari itu, *ialah* terbukti lebih rumit dibanding *adalah* dan *merupakan*.

**Rujukan**:

- Kridalaksana, Harimurti, dkk. 1985\. *Tata Bahasa Deskriptif Bahasa Indonesia: Sintaksis.* Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
- Moeliono, Anton M., dkk. 2017\. [*Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia Edisi Keempat*](https://repositori.kemdikbud.go.id/16351/1/Tata%20Bahasa%20Baku%20Bahasa%20Indonesia%20edisi%20keempat.pdf?ref=coba.narabahasa.id). Jakarta: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.

**Penulis**: Yudhistira

**Penyunting**: Ivan Lanin