> ## Content Index
> Fetch the complete content index at: https://coba.narabahasa.id/llms.txt
> Use this file to discover other available public pages before exploring further.

# Aasmara Memisahkan Kita
- URL: https://coba.narabahasa.id/aasmara-memisahkan-kita/
- Published: 2021-09-13T22:00:32.000Z
- Updated: 2021-09-13T22:00:32.000Z
- Author: Harrits Rizqi Budiman
- Tags: Nawala Narabahasa, Narabahasa, Nawala, #Migrated-1790158046258, #wp, #wp-post, #Import 2026-09-23 17:07

Bagaimana reaksi Kerabat Nara ketika membaca judul di atas? Apakah Kerabat Nara heran karena mengira ada saltik pada kata pertamanya atau justru spontan menyanyikannya dalam hati? Yang jelas, itu bukan saltik. Sebabnya, jika memang benar begitu, saya bisa-bisa disidang oleh Uda Ivan Lanin. Lantas, mengapa saya menulisnya sebagai *aasmara* alih-alih *asmara*? Nah, itulah yang akan saya jelaskan.

Akhir-akhir ini saya kerap mendapatkan tugas untuk mencari padanan istilah asing. Berbagai sumber daring pun saya jelajahi, seperti [SPAI](https://spai.kemdikbud.go.id/v1/web/index.php?ref=coba.narabahasa.id), [Kateglo](https://kateglo.com/?ref=coba.narabahasa.id), dan [Glosarium](http://bahasasastra.kemdikbud.go.id/glosarium/?ref=coba.narabahasa.id). Selain itu, saya juga menelusurinya dalam buku-buku glosarium dan daftar istilah yang tersedia pada [Repositori Kemdikbud](http://repositori.kemdikbud.go.id/?ref=coba.narabahasa.id).

Sewaktu iseng melihat-lihat isi *Glosarium Linguistik* (2002), saya menemukan ‘awasuara’ sebagai padanan dari *devoice*. Mulanya saya pikir itu adalah gabungan kata *awas* dan *suara*. Namun, jika demikian, maknanya berbeda dengan *devoice*. Lalu, di bawah istilah tersebut, saya mendapati ‘pengawasuaraan’ sebagai padanan dari *devoicing*. Setelah membaca itu, saya mencoba membedahnya menjadi unsur yang mungkin membentuknya, yaitu *pe-an* dan *awasuara*. *Awasuara* saya bagi menjadi *awa* dan *suara*. Berdasarkan itu, saya menduga bahwa *awa* adalah bentuk terikat karena jika bukan, ia tidak digabung dengan *suara*. Namun, apakah ada bentuk terikat *awa-* dalam bahasa Indonesia?

Ternyata *awa-* memang ada. KBBI mencatatnya dengan arti ‘hilang; bebas dari’. Contoh kata yang dibentuknya adalah *awahama* yang berarti ‘bebas dari hama penyakit’.

Pada lain kesempatan, ketika membaca *Glosarium Sastra* (2002), saya menjumpai ‘tanama’ sebagai padanan *anomien* dan *anomymus*—yang saya duga sebagai saltik dari *anonymus* atau *anonymous*. Terlepas dari penulisannya yang seharusnya *tannama* atau memang *tanama*, saya mengenali bentuk terikat *tan-* di sana. Saya pun segera menyadari bahwa ternyata bahasa Indonesia memiliki beberapa bentuk terikat yang berfungsi sebagai pengingkar atau negasi.

Sebagian besar dari kita mungkin mengenal bentuk terikat *non-* (misalnya pada *nonaktif* dan *nonblok*) serta *nir-* (misalnya pada *nirleka* dan *nirlaba*). Keduanya berarti ‘tidak’, ‘bukan’, atau ‘tanpa’. Selain itu, ada pula *in-*, *tak-*, dan *a-* yang sama-sama punya arti ‘tidak’—serta arti ‘kekurangan’, ‘bukan’, dan ‘tanpa’ untuk *a-*. Jika dijumlahkan bersama *awa-* dan *tan-*, bentuk terikat pengingkar dalam bahasa Indonesia ada tujuh, setidaknya. Itu belum ditambah bentuk terikat lain yang bernada negatif, seperti *anti-*, *kontra-*, dan *tuna-*.

Begitulah hasil penelusuran iseng yang saya lakukan. Bagi Kerabat Nara yang berstatus mahasiswa jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia yang kesulitan mencari topik skripsi, bentuk terikat pengingkar dalam bahasa Indonesia itu mungkin dapat menjadi hal yang menarik untuk dibahas. Misalnya, Kerabat Nara dapat membicarakan tentang asal bentuk terikat itu: lebih banyak dari bahasa asing atau daerah. Lalu, jika masih bingung akan cara menyusun skripsi dan aspek-aspek di dalamnya, Kerabat Nara dapat mengikuti [KDP Penulisan Skripsi](https://sinara.narabahasa.id/seminar/detail/KDP-21034?ref=coba.narabahasa.id) untuk mendapatkan pencerahan.

Oh, iya. Berkaitan dengan mahasiswa, Narabahasa sedang membuka perekrutan pemagang, lo. Ketentuannya dapat Kerabat Nara baca pada [media sosial](https://www.instagram.com/p/CTb%5F9PCsnIB/?utm%5Fsource=ig%5Fweb%5Fcopy%5Flink) Narabahasa.4

Kembali pada soal *aasmara*, sekarang Kerabat Nara tentu paham bahwa saya tidak melakukan salah tik. *Aasmara* dibentuk dari *a-* dan *asmara*. Jika dipikir-pikir lagi, dalam konteks *memisahkan kita*—pada lagu “Kehilangan” yang dipopulerkan oleh Firman Siagian, kata itu justru lebih masuk akal daripada *asmara*. Mana mungkin asmara dapat memisahkan? Yang memisahkan hanyalah aasmara, ketiadaan cinta. Oleh karena itu, sebaiknya kita dengarkan lagi lagu tersebut untuk membuktikan bahwa yang dinyanyikan Firman itu *asmara* atau *aasmara*. Yuk!